Market berhasil rebound signifikan pada perdagangan kemarin, namun langkah implementasi dari rencana yang diberikan Pemerintah harus tetap di pantau.
Potensi IHSG untuk turun atau anjlok secara drastis (crash) seperti awal pekan kemarin (ke level 5.300-an) sudah jauh mengecil.
Jaring pengaman yang dipasang pemerintah melalui Rencana DPR untuk buyback, disiplin anggaran APBN (Penyesuaian harga Pertamax dan penyesuaian budget MBG) dan strategi Bank Indonesia saat ini cukup untuk menahan indeks dari kejatuhan bebas.✅✅
Area “Titik jenuh jual” sudah terlihat, pasar saham mulai menunjukkan kekuatan “BELI” dari pelaku pasar domestik
Tanda-Tanda Overshoot Mulai Mereda
Namun, Bursa kita belum sepenuhnya aman dari koreksi sehat atau pergerakan fluktuatif. Pasar kemungkinan besar tidak langsung melesat naik terus-menerus tanpa hambatan, melainkan akan bergerak naik-turun dalam rentang konsolidasi baru.
👀Meski saat ini risiko politik mulai mereda, investor tetap harus melihat perkembangan dan bagaimana implementasi di lapangan. Berikut beberapa faktor yang dapat diperhatikan:
I. FAKTOR DOMESTIK (Endogenous Macroeconomic & Sovereign Risks)
Risiko Politik Kelembagaan & Kebijakan (Sovereign & Policy Risk)
- Risiko Kebijakan Fiskal Populis:
Tekanan pada ruang fiskal (fiscal buffers) APBN jika alokasi anggaran non-produktif terus berlangsung maka berpotensi memperlebar defisit anggaran.- Risiko Regulasi Mendadak (Policy Shock):
Ketidakpastian hukum terkait masa transisi wewenang Badan Pengelola Investasi Danantara dan regulasi baru mungkin berpotensi merusak kalkulasi bisnis jangka panjang.- Risiko Ego Sektoral & Komunikasi Lembaga (Institutional Cacophony):
Minimnya sinkronisasi pernyataan publik antarlembaga pemerintah (DPR, Kemenkeu, OJK, BI) yang dapat mengikis kepercayaan pasar (market confidence).- Risiko Nilai Tukar (Exchange Rate Risk):
Volatilitas kurs Rupiah berpotensi memicu inflasi dari barang impor (imported inflation) dan membengkakkan beban utang luar negeri.- Risiko Eksternalitas Domestik (Balance of Payments & Trade Risk):
Kelesuan aktivitas ekspor-impor yang dapat mempersempit surplus neraca perdagangan dan memperlebar defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit / CAD), sehingga menguras Cadangan Devisas.
II. FAKTOR EKSTERNAL (Exogenous Global Risks)
- Risiko Kebijakan Moneter Global (Global Monetary Shock):
Sentimen Hawkish The Fed: Proyeksi data CME FedWatch Tool mengenai potensi kenaikan suku bunga AS (rate hike) di akhir tahun 2026 yang didorong oleh kuatnya data tenaga kerja AS (robust payrolls), sehingga ⚠️menyempitkan yield spread dengan SBN Indonesia. - Risiko Geopolitik & Komoditas Global (Geopolitical & Commodity Shock):
Eskalasi konflik global yang mengerek harga minyak mentah dunia menembus USD 110/barel, memicu inflasi energi global (sticky inflation) dan menekan subsidi APBN domestik. - Risiko Proteksionisme Perdagangan (Global Trade Protectionism):
Pemberlakuan tarif dagang baru oleh negara-negara kekuatan ekonomi besar (seperti AS atau China) yang dapat menghambat laju volume ekspor komoditas andalan Indonesia.
III. RISIKO TRANSMISI PASAR MODAL (Financial Market Transmission Risk)
- Risiko Rebalancing Indeks Global (Indexing & Capital Outflow Risk):
Ancaman degradasi status atau pengurangan bobot saham Indonesia oleh MSCI terus membayangi dan masih memberikan risiko outflow di pasar saham.
More Info: Siminvest Instagram // Siminvest WhatsApp Channel
Copyright by ©️Sinarmas
Disclaimer on: this document is intended for information purposes only


