📝 Bea Keluar & Windfall Tax Nikel–Batubara Mulai Dikaji

Pemerintah tengah mengkaji penerapan windfall tax dan bea keluar untuk komoditas nikel dan batu bara.

Kebijakan ini memiliki beberapa tujuan:

1️⃣ Meningkatkan penerimaan negara untuk membantu beban subsidi energi
“Iya nanti ada Bea Keluar dan windfall tax, tetapi itu masih didiskusikan dengan Kementerian ESDM, yang jelas cukup untuk menutup kenaikan subsidi APBN kita” Menurut Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa

2️⃣ Mendorong hilirisasi melalui pemberian insentif pada produk turunan nikel
“Kita akan mendorong pertumbuhan industri baterai di sini juga dengan insentif tertentu supaya laku. Produk yang memakai bahan baku dalam negeri akan mendapat insentif lebih… masih didiskusikan,” Menurut Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa

3️⃣ Mengurangi praktik under-invoicing dan ekspor ilegal yang membuat potensi penerimaan hilang.
“Selama ini kalau ekspor batu bara, karena pajaknya nol, enggak ada bea keluar, Bea Cukai enggak bisa periksa sebelum barangnya berangkat. Jadi kita under-invoicing di situ besar sekali” Menurut Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa

🔎 Bea Keluar
Bea keluar merupakan pungutan negara yang dikenakan langsung pada barang/komoditas yang melewati batas wilayah pabean (ekspor). Selama ini produk olahan nikel serta batu bara belum dikenakan Bea Keluar, melainkan baru melalui skema Royalti (PNBP) atau pajak badan biasa.

Implikasinya: Bea keluar akan menjadi beban tambahan baru di luar royalti yang sudah ada, sehingga berpotensi menekan margin dan gross margin perusahaan eksportir.

🔎 Windfall Tax
Windfall tax hanya dikenakan saat perusahaan memperoleh laba di atas normal akibat faktor eksternal seperti lonjakan harga komoditas.

Implikasinya: kebijakan ini berpotensi menahan besarnya upside profit emiten saat harga komoditas naik, karena sebagian kenaikan laba akan dialihkan menjadi penerimaan negara melalui pajak tambahan.

📊 Emiten Nikel (Ekspor vs Domestik)

  • INCO → ~100% ekspor (nickel matte ke Jepang & global)
  • NCKL → >80% ekspor (MHP & FeNi ke China/global)
  • MBMA → ~75% ekspor, ~25% domestik untuk kawasan industri IMIP.
  • HRUM → ~70% ekspor, ~30% domestik (transisi dari batu bara ke nikel yang berkontribusi ~65% pendapatan)
  • ANTM → 100% bijih domestik, feronikel ekspor; nikel hanya ~15% pendapatan (relatif defensif)

⛏️ Emiten Batu Bara (Ekspor vs Domestik)

  • BYAN → ~85% ekspor → sangat exposed ke pasar global
  • ITMG → ~80% ekspor (Asia) → cukup sensitif
  • BUMI → ~60% ekspor, ~40% domestik → lebih seimbang tapi tetap terdampak ekspor
  • PTBA → >90% domestik (DMO PLN) → paling defensif

📌Key Takeaway
Kebijakan ini masih dalam tahap kajian, sehingga dampaknya terhadap emiten belum dapat diperhitungkan secara pasti.

⚠️Namun, pasar mulai mengantisipasi risiko kemungkinan penurunan margin sektor tambang, serta menjadi sentimen yang mempengaruhi pergerakan saham ke depan.

More Info: Siminvest Instagram // Siminvest WhatsApp Channel

Copyright by ©️Sinarmas
Disclaimer on: this document is intended for information purposes only