Perang Iran Pecah: Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal
Media pemerintah Iran telah mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal dunia setelah serangan udara besar-besaran dari AS -Israel yang kabarnya langsung menghantam kantor pusat beliau di Teheran.
Iran kini masuk ke masa transisi yang krusial, adapun dikarenakan serangan udara juga dilaporkan mengenai beberapa fasilitas penting, ada kekhawatiran dari pengamat bahwa banyak calon pengganti potensial mungkin turut menjadi korban atau dalam kondisi terancam.
Statement AS atas Kejadian ini: Trump mengatakan bahwa meninggalnya Khamenei adalah “kesempatan tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negara mereka”.
Saham Energi & Gold Siap ‘To The Moon’?
Iran “Raksasa Migas” dan kunci Selat Hormuz
(MEDC, ENRG, APEX, ELSA)
- Minyak Mentah diperkirakan bisa melonjak signifikan jika konflik terus meluas.
- Selat Hormuz, Jalur laut ini adalah “urat nadi” energi dunia dengan 20% pasokan minyak dan 25% LNG (gas) dunia lewat setiap harinya. jika perang, jalur ini terancam tutup.
Emas (Gold) — Safe Haven Utama
(ANTM, ARCI, PSAB, HRTA)
- Gold – Aset Lindung Nilai: Saat perang pecah, investor kabur ke emas untuk mengamankan aset mereka dari ketidakpastian.
- Perak (Silver): Ikut menguat mengekor kenaikan harga emas sebagai aset pelapis.
Komoditas lainnya yang terdampak tidak langsung:
Eskalasi perang besar di Timur Tengah per 1 Maret 2026 ini menciptakan “efek domino” ke berbagai komoditas industri lainnya. Gangguan pada jalur perdagangan (Selat Hormuz) dan lonjakan biaya energi menjadi pemicu utamanya.
- Baja (Steel) Iran adalah produsen baja besar dunia (31 juta ton/tahun), kini terancam terganggu akibat serangan udara.
- Batu Bara (Coal): Batu bara menjadi substitusi energi saat harga minyak dan gas dunia meledak
- Tembaga (Copper): kekhawatiran gangguan distribusi global akibat konflik
- CPO (Kelapa Sawit): Harga CPO bisa ikut naik karena sering kali bergerak searah dengan kenaikan harga minyak bumi (sebagai bahan baku biodiesel).
Dampak negatif
‼️Sebaliknya, sektor perbankan dan properti mungkin akan tertekan karena risiko kenaikan inflasi yang bisa memicu suku bunga tinggi.
Inflasi | risiko dari kenaikan Bahan bakar (Migas)
⚠️Dampak ke Indonesia: Kenaikan harga minyak dunia berisiko menekan APBN dikarenakan potensi lonjakan harga BBM subsidi dan non-subsidi (seperti Pertalite dan Solar).
More Info: Siminvest Instagram // Siminvest WhatsApp Channel
Copyright by ©️Sinarmas
Disclaimer on: this document is intended for information purposes only


