PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global turun tajam ke 46.9 (dari 50.0), menandakan kontraksi kedua tahun ini dan menjadi level terendah sejak Juni 2025.

Pelemahan ini menunjukkan tekanan yang makin luas di sektor manufaktur, baik dari sisi permintaan domestik maupun ekspor.
Penurunan dibebani oleh:
- Pesanan baru turun tajam, bahkan tercepat dalam 1 tahun terakhir akibat melemahnya daya beli
- Permintaan ekspor jatuh signifikan, terburuk sejak Agustus 2021
- Output menyusut 4 bulan beruntun, mencerminkan perlambatan produksi yang berkelanjutan
- Pembelian input dan aktivitas stok ikut ditekan, seiring perusahaan melakukan efisiensi biaya
💰 Di sisi biaya, tekanan inflasi masih tinggi:
- Input cost naik ke level tertinggi kedua sejak 2011
- Harga jual naik paling cepat sejak 2013, menunjukkan perusahaan mulai meneruskan kenaikan biaya ke konsumen
💡 Insight
Kondisi ini mengindikasikan fase perlambatan manufaktur yang cukup dalam, di mana pelemahan permintaan bertemu dengan tekanan biaya tinggi. Hal ini berpotensi menekan margin emiten berbasis industri dan siklikal dalam jangka pendek.
More Info: Siminvest Instagram // Siminvest WhatsApp Channel
Copyright by ©️Sinarmas
Disclaimer on: this document is intended for information purposes only


