Meskipun narasi baterai Electric Vehicle (EV) mendominasi pemberitaan, faktanya ~70% hingga 75% konsumsi nikel dunia masih terserap oleh industri baja anti-karat (stainless steel). Hubungan struktural ini berdampak besar pada dinamika pasar.

Sensitivitas terhadap Siklus Ekonomi Makro: Karena mayoritas nikel masih digunakan sebagai produksi baja anti-karat, konsumsi baja juga sangat bergantung pada sektor konstruksi, manufaktur, dan infrastruktur global.
Dengan demikian, harga nikel masih sangat sensitif terhadap stimulus ekonomi atau perlambatan industri di China (konsumen baja terbesar dunia).
Harga nikel global di London Metal Exchange (LME) mengalami pemulihan struktural (rebound) sepanjang semester 1-2026 dibandingkan dengan 2025.
Secara umum, sektor nikel Indonesia saat ini didominasi oleh perusahaan bermodel bisnis hybrid yang mampu memproduksi nikel Kelas 1 dan Kelas 2 sekaligus, dengan mayoritas pendapatan emiten masih ditopang oleh penjualan nikel Kelas 2. Emiten terkait: ANTM, HRUM, INCO, NCKL, MBMA.
Class 1 Nickel (Fokus Baterai EV & Komoditas Intermediet)
Class 2 Nickel | Diversifikasi (Fokus Feronikel/Baja & Hulu)
Berikut ringkasan pertumbuhan laba bersih (YoY) emiten nikel di Indonesia pada Kuartal I-2026:
MBMA: Berhasil mencatatkan pembalikan kinerja menjadi Positif (Turnaround)
INCO: Melonjak ~100,00%
NCKL: Melejit ~63,65%
ANTM: Mencetak kenaikan ~60,00%
HRUM: Tumbuh moderat +15% hingga +20%
More Info: Siminvest Instagram // Siminvest WhatsApp Channel
Copyright by ©️Sinarmas
Disclaimer on: this document is intended for information purposes only


