Pergerakan antara emas dan Dolar AS sebagai aset safe haven berpotensi mengalami pergeseran seiring perubahan sentimen risiko global serta arah kebijakan moneter.
🤔 Faktor yang Berpotensi Mendorong Peralihan Safe Haven ke Dolar AS
- Likuiditas tinggi – Saat pasar relatif volatil, investor cenderung beralih ke dolar karena dinilai lebih likuid dibanding emas.
- Kondisi overbought emas – Setelah sempat menyentuh ATH (USD5,400/ons), sebagian investor diasumsikan melakukan realisasi keuntungan sehingga dana berpotensi dialihkan ke dolar.
- Geopolitik & ekonomi – Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset dolar sebagai lindung nilai.
📉 Dampak ke Rupiah: Diasumsikan apabila minat terhadap Dolar AS meningkat, Rupiah diperkirakan menghadapi pelemahan.
Pergerakan Rupiah
Saat ini Rupiah berada di kisaran Rp16,920/USD, dengan pergerakan 3 tahun terakhir berada di range Rp14,655 – Rp17,065.
Secara kinerja, Rupiah cenderung terdepresiasi terhadap dolar dengan pelemahan 0.73% (MoM), 1.38% (YTD), dan 3.83% (YoY). (per 06 Mar 2026)
⚠️ Efek lanjutan → Imported Inflation Pelemahan rupiah diperkirakan membuat harga barang impor menjadi lebih mahal serta potensi kenaikan biaya produksi.
💡 Insight
Perubahan preferensi safe haven global tidak hanya memengaruhi harga emas dan dolar, tetapi juga berpotensi berdampak pada nilai tukar rupiah dan biaya hidup domestik melalui kenaikan harga barang impor.
Sektor Terdampak:
- Farmasi & Kesehatan: 90% bahan baku obat masih impor → harga obat berpotensi naik.
- Elektronik & Otomotif – Banyak komponen dibayar dalam dolar (chip, mesin, spare part).
- Makanan & Minuman – Bahan seperti gandum dan kedelai mayoritas impor → bisa memicu kenaikan harga produk turunan (mi instan, roti, tahu, tempe).
More Info: Siminvest Instagram // Siminvest WhatsApp Channel
Copyright by ©️Sinarmas
Disclaimer on: this document is intended for information purposes only


