🎇Domino Effect: Ancaman Inflasi untuk Properti & Bank

Kenaikan harga minyak mentah dunia kembali menjadi ancaman di tengah eskalasi geopolitik AS–Israel vs Iran.

Belajar dari Krisis 2022 (Perang Rusia-Ukraina)

  • Harga Minyak: ICP naik dari $80 ke $117.62/barel (Juni 2022).
  • Cost-Push Inflation: Biaya logistik & produksi naik → harga barang konsumsi melonjak.
  • Titik Ledak Inflasi: Penyesuaian BBM bersubsidi (Sept) → inflasi tahunan naik ke 5.95%.
  • ⚠️Respons Suku Bunga: BI Rate naik 200 bps (3.5% → 5.5%) dalam 5 bulan.

Sektor perbankan dan properti berisiko tertekan karena inflasi biaya yang bisa memicu kenaikan suku bunga.

🔍 Mengapa Properti & Bank Tertekan?

Sektor Perbankan

  • Risiko NPL naik: Inflasi & kenaikan BBM menekan kemampuan bayar debitur
  • NIM tertekan: Bunga deposito naik lebih cepat dari bunga kredit → margin menyempit.
  • Kredit melambat: Bank lebih selektif di tengah suku bunga tinggi & ketidakpastian ekonomi.

Sektor Properti

  • Biaya konstruksi naik: Harga energi dorong kenaikan bahan baku & logistik.
  • Daya beli melemah: Inflasi kurangi kemampuan beli rumah.
  • Bunga KPR naik: Kenaikan BI Rate membuat cicilan makin berat.

📌Insight: Bank Indonesia baru mulai menurunkan suku bunga secara signifikan di 2025, sehingga sektor properti dan perbankan belum sepenuhnya pulih. Kini, kenaikan harga minyak dan potensi inflasi baru menambah tantangan sebelum sektor ini benar-benar pulih.

More Info: Siminvest Instagram // Siminvest WhatsApp Channel

Copyright by ©️Sinarmas
Disclaimer on: this document is intended for information purposes only